17. AL WAHHAB (Dzat Yang Maha Memberi Derajat) Yang paling sulit dihadapi oleh manusia didalam hidupnya adalah bagaimana mengendalikan hawa nafsunya. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya, sehingga dia tidak cinta kepada kehidupan dunia, maka Allah Ta’ala akan memberikan derajat yang tinggi disisiNya. Akan tetapi bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sehingga dia mencintai kehidupan dunia, maka Allah Ta’ala akan merendahkan derajatnya baik disisiNya maupun dimata manusia. Memang sangat sulit bagi manusia untuk bisa zuhud (tidak terpengaruh dengan kehidupan dunia), karena Allah Ta’ala telah menjadikan indah pada pandangan manusia kesenangan hidup didunia. Surat Ali Imran (3) : 14 14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini. Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Oleh sebab itu diperlukan kesungguhan bagi manusia untuk memilih kehidupan akhirat, apabila dia ingin zuhud terhadap kehidupan dunia. Barang siapa yang kecintaannya terhadap dunia masih melekat, maka dia akan dipandang rendah dimata Allah Ta’ala dan dimata manusia. Sebagai contohnya apabila seseorang terlalu cinta kepada harta, maka dia akan dipandang rendah oleh Allah Ta’ala dan manusia. Apabila seseorang terlalu cinta kepada wanita, sehingga dia tunduk kepadanya, maka dia akan dipandang rendah oleh Allah Ta’ala dan manusia. Apabila orang tua terlalu cinta kepada anak-anaknya sehingga tidak bisa mendidiknya, juga akan dipandang rendah oleh Allah Ta’ala dan manusia. Begitupun juga dengan yang lain. Dalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang hanya mencari ketinggian derajat dimata manusia, dengan banyaknya harta, ilmu, kekuasaan dan lain sebagainya. Padahal mereka hanya mencari ketinggain derajat yang semu dan tidak akan pernah mendapatkan ketinggain derajat yang haqiqi dimata Allah Ta’ala. Karena ketinggain derajat yang haqiqi hanya bisa diperoleh dengan cara zuhud terhadap dunia. Sesuai surat Al Israa' (17) : 18, 19 18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. 19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Apabila seseorang sudah cinta kepada Allah Ta’ala, maka kecintaan-kecintaan terhadap dunia akan hilang, sehingga tidak ada lagi penghalang baginya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Isteri, suami, anak, pekerjaan, dan lain sebagainya, tidak bisa menghalanginya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu hendaknya kita lihat diri kita masing-masing. Apakah isteri atau suami memberatkan (menghalangi) kita untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala? Apakah kecintaan kepada anak, harta, pekerjaan dan kendaraan juga bisa menghalangi kita melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala? Apabila Allah Ta’ala mencintai atau meninggikan derajat seorang hamba, maka Allah Ta’ala akan memanggil Malaikat Jibril seraya berfirman : “Wahai Jibril, Aku telah mencintai dan meninggikan derajat sifulan. Maka cintailah dia dan tinggikanlah derajatnya”. Setelah itu Malaikat Jibril mengumpulkan seluruh Malaikat yang ada dilangit dan berkata : “Wahai para Malaikat langit, Allah Ta’ala telah berfirman kepadaku bahwa Dia telah mencintai dan meninggikan derajat sifulan. Dan Dia memerintahkan kepadaku supaya mencintai dan meninggikan derajat sifulan tersebut. Maka aku perintahkan kepada kalian untuk mencintai dan meninggikan derajatnya”. Setelah itu Para Malaikat langit turun kebumi dan memanggil para Malaikat bumi seraya berkata : “Wahai Malaikat bumi, Jibril telah mengabarkan kepadaku bahwa Allah Ta’ala telah mencintai dan meninggikan derajat sifulan, dan Allah Ta’ala memerintahkan Jibril untuk mencintai dan meninggikan derajatnya. Lalu Jibril memerintahkan kami untuk mencintai dan meninggikan derajatnya. Oleh sebab itu kami perintahkan kepada kalian untuk mencintai dan meninggikan derajatnya pula”. Setiap manusia pasti mempunyai Malaikat yang ada didalam dirinya, sehingga setiap manusia akan mencintai sifulan tersebut walau musuhnya sekalipun. Begitupun juga sebaliknya apabila seseorang selalu mengikuti hawa nafsunya, maka Allah Ta’ala murka kepadanya dan akan diikuti oleh para malaikat dan seluruh makhluk yang ada dibumi ini. Didalam kehidupan ini banyak sekali orang-orang yang eksistensinya (keberadaannya) ingin diakui oleh manusia. Sebagai contohnya memakai pakaian dengan niat ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Apabila berkata atau berbuat ingin selalu menonjol (diperhatikan orang lain). Padahal penilaian dimata manusia tidak ada guna sedikitpun dan tidak bisa menyelamatkan kita diakhirat. Karena yang bisa menyelamatkan kita dikhirat hanyalah penilaian dari Allah Ta’ala. Sedangkan ciri-ciri eksistensi masih melekat pada diri kita adalah : “Apabila disanjung orang lain hati menjadi senang dan apabila dihina (direndahkan) hati menjadi sakit”. Agama ini adalah aturan. Baik dari segi lahiriyah maupun bathniyah. Bagi orang-orang yang mau mengikuti aturan-aturan tersebut, niscaya dia akan mempunyai akhlaq yang mulia. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak perbuatan yang kita lakukan yang berpamrih hanya kepada Allah Ta’ala, dan seberapa banyak yang berpamrih kepada manusia yang akibatnya membuat kita menjadi terhina? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami derajat yang mulia disisi-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala akan memberikan derajat yang tinggi disisi-Nya bagi orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya, sehingga tidak cinta dengan kehidupan dunia. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dan didalam mengendalikan hawa nafsu, niatnya semata-mata karena Allah Ta'ala, bukan mencari sanjungan dari manusia. Karena bagi orang-orang yang menginginkan derajat dimata manusia, Maka Allah Ta’ala akan memberikan apa yang diinginkannya tersebut. Akan tetapi disisi Allah Ta'ala derajatnya sangat rendah. Orang-orang seperti ini apabila melakukan kebaikan (mengendalikan nafsunya) niatnya bukan karena Allah Ta'ala tetapi semata-mata karena manusia. Sehingga dimata manusia dia kelihatannya orang baik tetapi disisi Allah Ta'ala dia sangat jelek. Orang seperti ini tidak mau dikatakan jelek oleh manusia tetapi dia rela dikatakan jelek oleh Allah Ta'ala. Dia selalu menjaga letak pandangan manusia kepadanya tetapi tidak menjaga letak pandangan Allah Ta'ala kepadanya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bimbinglah kami agar dapat mengendalikan hawa nafsu kami, sehingga kami selalu dapat mengikuti jalan yang lurus yaitu jalan yang Engkau ridhoi. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal tidak pernah memperdulikan derajatnya dimata manusia. Biarlah manusia menghinanya atau merendahkannya, yang penting disisi Allah Ta'ala benar, sehingga Allah Ta'ala akan memberikan derajat yang tinggi disisi-Nya. Sebetulnya derajat dimata manusia tidak menjadi jaminan derajat dimata Allah Ta'ala. Karena orang-orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah Ta'ala adalah orang-orang yang paling bertaqwa. Walau seorang pejabat sekalipun jika dia tidak bertaqwa, maka derajatnya dimata Allah Ta'ala sungguh sangat rendah. Akan tetapi walaupun tukang sampah sekalipun andaikata dia bertaqwa, maka derajatnya dimata Allah Ta'ala sungguh sangat tinggi. Sedangkan orang-orang yang bisa bertaqwa adalah orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Apabila belum bisa mengendalikan hawa nafsu, maka selamanya tidak akan bisa bertaqwa. G. Sikap Orang Mukhlis Apapun yang dia terima dari manusia, baik itu berupa hinaan, caci makian, cemoohan dan lain sebagainya, semuanya dia terima dengan ikhlas dan tidak membuatnya sakit hati. Yang penting dimata Allah Ta'ala dia termasuk orang-orang baik dan memiliki derajat yang tinggi. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kehidupan akhirat hampir sama dengan kehidupan didunia. Diakhirat nanti akan ada raja-raja seperti didunia. Dan raja-raja diakhirat nanti adalah orang-orang yang tidak terkenal didunia. Apabila dia datang tidak ada yang menghiraukannya dan apabila dia pergi tidak ada yang menanyakannya”. Oleh sebab itu bagi orang-orang mukhlis apabila dirinya tidak diperhitungkan oleh manusia didunia, justru dia sangat senang dan bersyukur. Karena dia berharap nanti diakhirat bisa menjadi raja. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, yang dia inginkan adalah derajat didunia, yaitu derajat dimata manusia. Sedangkan derajatnya nanti diakhirat tidak pernah dia perdulikan. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Wahhab Apabila ia telah menjadi kholifah, maka ia akan selalu menghargai dan meninggikan orang-orang yang dekat kepada Allah Ta’ala dan orang-orang yang telah zuhud kepada dunia. Akan tetapi yang harus diperhatikan bahwa penghargaan itu harus karena Allah Ta’ala dan hanya kepada orang-orang yang dekat kepada Allah Ta’ala. Bukan karena hawa nafsunya atau karena pertolongan orang lain kepadanya, sehingga dia meninggikan orang lain tersebut. Penghargaan tersebut akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang telah zuhud kepada dunia melalui orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Wahhab. Sedangkan bentuk penghargaan itu bisa dengan cara mengikuti ajarannya, atau mencontoh perbuatannya (akhlaqnya). Karena dengan demikian dia akan mendapat barokah dari apa yang diamalkannya tersebut. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Wahhab Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memuliakan orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya akan mulia disisi-Mu.